Degradasi moral sebagai “vektor” HIV/AIDS


“___BANDUNG — Faktor risiko HIV/AIDS terbesar di Jabar berasal dari narkoba, psikotropika, dan zat aditif (napza). Dari jumlah penderita HIV/AIDS di Jabar per Maret 2007 sebanyak 2.513 orang. Dari jumlah itu sekitar 66 persennya bersumber dari pengguna napza.

Menurut Humas Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jabar, Tri Irwanda, faktor risiko terbesar adalah napza diikuti oleh heteroseksual. ”Kedua penyebab ini sebenarnya mempunyai korelasi,” katanya kepada Republika, Selasa (3/7). Tri menjelaskan, penderita HIV/AIDS dari napza sebanyakl 1.678 kasus. Dengan adanya harm reduction di antaranya pertukaran jarum suntik, membawa pengaruh positif untuk jumlah HIV/AIDS. Namun, ia mengaku, tidak mempunyai data keberhasilan program tersebut.

Dikatakan Tri, tidak ada satu kota/kabupaten pun di Jabar yang bebas dari HIV/AIDS dan narkoba. Pada 2007 ini, pemerintah menetapkan 17 kota/kabupaten di Jabar menjadi daerah skala prioritas penanganan HIV/AIDS. ”17 kota/kabupaten ini merupakan bagian dari 100 kota/kabupaten di Indonesia yang menjadi skala prioritas,” katanya menjelaskan.___”

dikutip dari : http://aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=366

Kalau kita membaca kutipan diatas, 66% penderita HIV/AIDS adalah pengguna NAPZA (walaupun ini data tahun 2007, namun saya kira tetap bisa dijadikan renungan), mengingatkan kita bahwa NAPZA merupakan “vektor” dari HIV/AIDS. Apakah pengguna NAPZA menyadari hal ini, belum ada penelitian yang dilakukan untuk hal yang satu ini. Namun dengan begitu banyaknya kampanye memerangi NAPZA dan HIV/AIDS seharusnya angka korelasi ini rendah. Namun ternyata menurut data diatas angkanya masih cukup tinggi. Penyesalan datang kemudian adalah apologi yang paling sempurna dalam menyikapi hal ini. “Kenikmatan” dalam menggunakan NAPZA ternyata membutakan hasil penelitian diatas. Efek negatif dari NAPZA ternyata hanya sebagian kecil dari serentetan neraka duniawi yang akan didapat. Hasil 66% pengguna NAPZA akan menjadi penderita HIV/AIDS adalah “efek” paling membahayakan, karena efek ini akan menjadikannya “vektor” paling sempurna bagi penyebarluasan HIV/AIDS.

Vektor HIV/AIDS yang notabene merupakan sumber “kenikmatan” manusia (seks bebas dan NAPZA), menjadikan HIV/AIDS menjadi begitu sulit di tekan angka penyebarannya. Pendekatannya-pun menjadi berbeda dengan penyakit lainnya. Pendekatan dari aspek moral adalah hal yang jarang dipakai dalam menekan angka penyebaran penyakit lain. Namun pendekatan ini menurut saya adalah penting, karena seks bebas merupakan sebagian dari perilaku moral kita yang agak lewat batas, terutama bagi kita warga timur. Sedangkan NAPZA yang merupakan pemberontakan terhadap moral karena bagi sebagian besar (lebih dari 80% adalah muslim) warga kita menggunakan NPZA adalah sesuatu yang haram, namun angka penggunanya tak pernah surut.

stop HIV/AIDS

stop HIV/AIDS

Degradasi moral sebagai vektor HIV/AIDS, sehingga kalau saya berpendapat bahwa HIV/AIDS adalah hasil dari pemberontakan moral agaknya hal ini tidak terlalu berlebihan. HIV/AIDS adalah tamparan yang sangat keras bagi kita umat manusia yang semakin meninggalkan moral untuk sesuatu yang akan kita sesali kemudian hari.

 

Save our generation, Save the Planet

 

 

~ oleh eemoo pada Oktober 11, 2010.

Satu Tanggapan to “Degradasi moral sebagai “vektor” HIV/AIDS”

  1. Silakan kunjungi blog sehat di http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: